Kehidupan "Mini" di Gerbong Ekonomi

Jam tua di depan kantor kepala Stasiun Jebres menunjuk angka 10.30 WIB. Itu artinya 20 menit lagi yang aku tunggu-tunggu akan datang. Sesekali aku mengintip secarik tiket orange. Melihat nomor gerbong dan nomor tempat duduk yang sudah disiapkan untuk ku. Tak lupa membawa sedikit cemilan dan minuman sebagai teman diperjalanan. Semakin lama, kerumunan di Stasiun semakin ramai. Kebanyakan orang di Stasiun tersebut menunggu apa yang aku tunggu. 

Setelah jam tua itu menunjuk ke angka 10.50 WIB, akhirnya muncul juga dari perbukitan. Sesosok besi yang saling berkaitan. Sebuah Lokomotif model CC201 berwarna putih dengan logo Kereta Api Indonesia di sampingnya yang menarik gerbong-gerbong menjadi satu kesatuan. Sebuah garis putih di samping rel menjadi batas bagi penumpang yang akan naik. Dengan harga yang relatif murah, menjadikan sarana transportasi ini digemari semua elemen masyarakat.

Suara rem terdengar dari kejauhan. Seakan menjadi sinyal bagi aku untuk bersiap-siap. Kemudian sesosok besi itu berhenti di depan ku. Kereta Api Pasundan sudah siap untuk mengantarkan ku pulang ke kampung halaman untuk bertemu orang tua. Dengan raut wajah yang gembira aku mencari tempat duduk yang akan setia menemani ku saat perjalanan Solo-Cilacap. Dua Ibu-Ibu dan sesosok bapak-bapak dengan wajah yang relatif tua menjadi teman sebangku ku. Ramah dan baik hati, kesan pertama untuk ketiga orang ini.

Seiring dengan berbunyinya peluit dari sang penjaga stasiun, pemandangan diluar sedikit demi sedikit bergerak. Perjalanan jauh siap aku tempuh bersama gerbong K3-5 ini. Gerbong ekonomi yang mengangkut sekitar 40-50 penumpang dengan berbagai tujuan. Disinilah kehidupan “mini” itu dimulai. Kehidupan di dalam gerbong ekonomi. Kehidupan yang selalu saja menarik untuk kita selami. Para pedagang asongan, pengamen, pengemis seakan menjadi aktor di kehidupan “mini” ini. Mereka turut serta meramaikan gerbong ini.

Lelaki paruh baya dengan berpakaian baju batik lengkap dengan kopiahnya menyapa aku. Lelaki yang bertempat duduk disebelah ku. "Dek, turun dimana nanti?", tutur beliau. "Mau turun di Stasiun Banjar pak", balasan ku sambil memberikan senyuman khas ku. "Kalau bapak turun dimana?", tanyaku. "Oh, kalau bapak bentar lagi juga turun, turun di purwosari dek", balas sang bapak. "Wah bentar lagi dong pak, emang bapak dari mana?", balasan ku. "Bapak dari Surabaya dek". "Wah, jauh juga ya pak", balas ku.

Percakapan dengan teman sebangku ku diakhiri dengan hangat. Seakan-akan perbincangan antara bapak dan anaknya. Selain hangatnya percakapan tadi, suasana di dalam gerbong juga tak kalah hangatnya, bahkan lebih mendekati ke suhu yang panas. Seperti di oven di sebuah dapur raksasa dengan suhu lebih dari 100 derajat celcius. Keringat sudah tak terbedung lagi, seperti air terjun niagara, mengucur deras ke sela-sela baju yang aku kenakan. Tak ada tissue, baju pun jadi. Aku husap keringat-keringat di badan dan leher ku dengan baju yang aku pakai. Parfum yang aku gunakan sebelum berangkat sudah tak mampu lagi menahan bau keringat khas ku. Kebetulan cuaca di luar sangatlah terik. Matahari sedang tak malu-malu kucing lagi menunjukkan sinarnya ke penduduk bumi. Awan-awan di langit seakan-akan sedang tak mau menemani sang mentari, menemani untuk mengurangi teriknya. Sinar-sinarnya masuk melalui jendela-jendela yang terbuka lebar. Angin sepoi-sepoi juga turut masuk kedalam gerbong. Mengurangi suhu didalamnya.

Dengan kondisi ini, penjual es sedikit diuntungkan. Banyak sekali penjual es berlalu lalang di gerbong ini. Berbagai macam jenis minuman ditawarkan. Ada air mineral yang dibekukan, ada es teh lengkap dengan botolnya, ada minuman kesehatan, ada pula kopi tak lupa dengan susunya. Memang unik cara penjual memperdagangkan dagangannya. Ada yang ditarik dengan tempat minum yang menyerupai kursi kecil, ada yang digendong seperti menggendong anak, ada pula penjual yang memanggul dagangannya. Cara penjual mempromosikan dagangannya pun tak kalah uniknya.

“Ora enak, ora bayar”, ujar salah satu penjual disudut gerbong. Teriakan si penjual tadi sedikit mengusik ketenangan aku. Ketenangan karena kepanasan dan kehausan. Aku tertarik akan kalimat yang penjual itu katakan. Masih lekat logat ngapaknya, logat khas daerah Banyumas. “Pak, beli”, panggil ku. Si penjual datang mendekati tempat duduk ku. “Oia mas, mau yang mana?”, balas si penjual. “Emangnya bapak jual minuman apa aja disini?”, sambungku. “Wah uakeh mas, ini ada es teh, dawet, aqua, es kacang ijo. Gula ne juga asli lho. Mau pilih yang mana?”, lanjut si penjual. “Es teh aja deh pak, berapaan pak satunya?”, ujarku. “Murah mas, cuma 2 ribu”, tambah si penjual. “Ini pak uangnya, yang masih dingin loh pak”. “Siap mas”. Uang 2 ribu rupiah sudah berpindah tangan. Es teh dengan air gula asli pun sudah aku genggam. Suara air meluncur ke dalam tenggorokan terdengar cukup keras. Dahaga yang aku rasakan tiba-tiba hilang karena es teh itu. Memang benar rasa es teh itu enak, rasa manisnya alami, tidak ada unsur pemanis buatan didalamnya.

Tak sadar, jarum jam tangan ku sudah menunjuk ke angka 2. Pantas saja rasa panas semakin menyengat, pukul 2 siang merupakan puncaknya siang hari, matahari tepat di atas gerbong, seakan-akan sedang mengintai. Tiba-tiba ada suara perut yang terdengar. Aku baru sadar, sudah sejak pagi hari aku belum makan. Bergegas lah aku mencari penjual makanan. “Yang anget yang anget”, terdengar suara ibu-ibu setengah baya. Aku langsung saja mencari asal dari suara itu. Dan ya ketemu. Seorang penjual makanan nasi bungkus, ditambah dengan pecel dan makanan kecilnya seperti mendoan, tahu, bakwan. Dibandingkan dengan makanan nasi bungkus yang dijual diluar sana, nasi bungkus yang didagangkan di dalam gerbong sangatlah murah. Dengan 5 ribu kita sudah mendapatkan nasi bungkus dengan lauk pauk ayam.

Selang beberapa menit kemudian, perut sudah terisi penuh dengan nasi bungkus dan aku pun mulai mengantuk. Rasa kantuk menyerang karena kondisi gerbong yang sudah lumayan tidak panas lagi, ditambah dengan perut yang sudah terisi. Tiba-tiba ada seorang anak kecil menghampiri ku. Dengan pakaian yang apa adanya, terdapat sobekan disana-sini. Berjalan menghampiri seperti jalannya “suster ngesot”. Ternyata anak itu menderita cacat di kakinya dari lahir. Dengan muka yang memelas, anak itu menjulurkan tangannya. Seakan membuat sinyal ingin meminta uang. Rasa kantuk ku yang tadi kurasakan, agak sedikit menghilang. Aku cari uang di sela-sela kantong celana ku. Kutemukan beberapa uang kecil untuk anak ini. “Nih dek, ada sedikit rejeki buat kamu”, ujar ku. “Makasih kak”, balas anak itu. 

Kejelasan isi UUD pasal 34 ayat (1) patut untuk dipertanyakan disini. Dalam pasal itu, katanya fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara, tapi dalam kenyataan dapat kita lihat tadi. Seorang anak meminta-minta demi melanjutkan hidupnya, demi sesuap nasi. Sungguh ironis dengan kenyataan ini. Negara yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, negara luas dengan penduduk yang beraneka ragam, tentunya pasti bisa mewujudkan pasal 34 tadi. Asal ada kemauan dan niat yang keras dari semua orang, khususnya pemerintah. Tak ada yang mustahil.

Jam tangan ku sudah menunjukkan ke angka 17.15, kereta api pasundan sudah tiba di Stasiun Banjar. Aku pun bergegas segera meninggalkan tempat dudukku dan turun dari kereta. Kulihat ada deretan bangku yang kosong, sedikit kurebahkan badan ku ke salah satu bangku itu. Sembari menunggu jemputan dari rumah aku berpikir betapa berharganya pengalaman ku selama perjalanan didalam gerbong tadi. 

Sebuah kehidupan “mini” tersaji didalam gerbong ekonomi. Kehidupan penuh cobaan, penuh semangat demi mencari sesuap nasi. Dengan pengalaman yang berharga tadi, dapat dijadikan sebagai patokan bahwa perjuangan hidup itu memang berat. Didalam gerbong tadi, kehidupan mini yang penuh cobaan dapat diibaratkan sebagai bapak si penjual minuman, ibu si penjual makanan nasi bungkus, dan si anak laki-laki yang mengemis. Namun kita jangan menyerah dengan keadaan. Asal ada kemauan pasti ada jalannya.

Dhany Dimas O
Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS

Read More..

One Spirit

Masih teringat jelas saat Bung Karno membacakan teks proklamasi. Tegas, semangat membara, dan heroik. Itulah sedikit kata-kata yang dapat mewakili semangat Bung Karno akan kemerdekaan Negara ini. Pidato Bung Tomo saat pertempuran di Surabaya melawan tentara-tentara Inggris mengobarkan semangat para pemuda. Yang tertulis dikening para pemuda hanyalah dua kata, Merdeka atau Mati. Lalu perjuangan heroik para pemuda di beberapa daerah untuk menghadapi para kompeni-kompeni yang ingin merampas kemerdekaan Indonesia. Semua kalangan masyarakat turut serta bergotong royong mempertahankan kemerdekaan. Mereka hanya ingin membarter usaha-usaha mereka dengan satu kata yaitu Merdeka. 

Namun, semangat-semangat yang kita dengar saat menjelang dan sesudah kemerdekaan saat ini sudah semakin luntur. Keheroikan Bung Karno, Bung Tomo, dll sudah tak ada yang mewarisinya. Bahkan semangat untuk mengisi kemerdekaan disalah gunakan hanya untuk kepentingan pribadi. Banyak sekali masalah-masalah yang menjadi warisan bangsa Belanda untuk kita. Salah satu warisan yang sudah menjadi budaya ialah Korupsi. Satu kata yang menghancurkan segalanya. Sudah tak terhitung lagi orang yang melakukan tindakan tercela ini. Seperti sudah mendarah daging, sulit sekali untuk di brantas. 

Namun, sesosok super hero bernama KPK menjadi secercah cahaya bagi dunia kegelapan yang disebabkan oleh korupsi. Kemajemukan masyarakat Indonesia juga tak lepas dari masalah. Masalah klasik yang pasti akan menimpa sebuah negara yang memiliki kultur yang berbeda-beda. Masalah yang selalu di dengung-dengung kan oleh orang yang tak bertanggung jawab, orang yang tak suka Indonesia menjadi besar, menjadi bangsa yang hebat. Itulah masalah SARA. Satu kata yang dapat mengakibatkan banyak masalah. SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan) sangat sensitif bila kita berdebatkan. 

Satu semangat yang telah digadang-gadang oleh pendahulu kita mulai terlupakan. Semangat untuk tidak saling membeda-bedakan, semangat untuk menjadi satu, menjadi bangsa Indonesia yang hebat. Banyak sekali contoh yang membuktikan semangat itu makin hari makin runtuh. Cina, hitam, Agama menjadi salah satu contoh SARA yang kerap melanda Indonesia. Masalah besar yang mengancam bangsa yang besar. Mungkin bila masalah-masalah di Indonesia dapat kita tulis di dalam buku, maka siapkan saja ratusan bahkan ribuan buku untuk menulisnya. Umur 67 tahun, belum menjadi umur yang matang bagi Negara yang memiliki keanekaragaman masyarakat. Belum menjadi umur yang matang bagi Negara yang memiliki SDA yang melimpah. Dan belum menjadi umur yang matang bagi Negara yang memiliki semangat untuk mengusir penjajah. 

Namun, tidak ada kata terlambat untuk berubah. Berubah menjadi Indonesia yang lebih baik. Jangan biarkan impian Bung Karno hanya akan menjadi sebuah mimpi indah. Impian melihat Indonesia menjadi Negara yang hebat melewati Amerika Serikat, RRC, Jepang, Rusia, dll. Negara hebat yang memiliki keanekaragaman masyarakat, SDA yang melimpah, dan semangat untuk mengusir penjajah. Jangan biarkan perbedaan-perbedaan itu menghancurkan negara ini. Satukan kembali semangat untuk Indonesia lebih baik. Karena semangat-semangat itulah yang dulu dipergunakan para bapak bangsa untuk mengusir penjajah. Semangat kemerdekaan, one spirit.

Dhany Dimas O
Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS

Read More..

5 Kalimat Maut Untuk Luluhkan Hati Wanita


Banyak cara bisa diterapkan untuk mempertahankan hubungan percintaan. Antara lain dengan menjaga komunikasi, saling jujur, terbuka, menghargai, serta sama-sama mematuhi komitmen.

Namun, ada satu cara yang justru kerap disepelekan, padahal ampuh untuk membuat hubungan semakin mesra, yakni melontarkan pujian. Bagi perempuan, sebuah pujian, terutama dari pria yang dikasihi bisa membangkitkan semangat dan perasaan bahwa “he is the one”. Namun ungkapan pujian seperti “Sayang, kamu seksi” atau semacamnya ternyata tidak cukup memuaskan kaum Hawa. Simak lima ekspresi pujian yang disukai perempuan berikut ini

1. “Kamu tak tergantikan”
Kalimat ini bisa langsung membuat mata perempuan bercahaya. Mengatakannya dengan kontak mata, membuat orang spesial dalam hidup Anda tahu bagaimana posisinya dalam hidup Anda, dan bahwa Anda menghargai dia sebagai satu individu yang unik. Mendengar Anda mengatakan ini, membuat dia merasa sangat bernilai.

2. “Kamu memberi cahaya bagi hidup saya”
Kalimat ini memang agak berlebihan. Namun, mengatakan kalimat tersebut menunjukkan kalau seorang pria paham dan ingat bahwa perempuan yang memilih untuk mendampinginya telah memberikan waktu dan energinya bagi pria tersebut. Kalimat ini menandakan, pria tersebut menghargai pasangannya yang telah rela berbagi hidup bersamanya.

3. “Kamu sempurna seperti apa adanya kamu”
Kalimat ini mampu mencerahkan hari-hari, pekan, bulan bahkan tahun, yang dijalani kaum Hawa. Perempuan akan lega dan tenang bila tahu kalau dirinya adalah seseorang yang sempurna di hadapan pasangannya. Tidak perlu lagi memusingkan berat badan yang merangkak naik atau wanita-wanita muda dan cantik yang bertebaran di mana-mana, karena tahu meski betapa buruknya Anda, pasangan Anda menganggap Anda sempurna dan tidak bercacat.

4. “Saya suka …mu (isi dengan: mata, rambut, tangan, kaki, dan sebagainya)
Jangan asal mengucapkan kalimat ini. Pikirkan baik-baik bagian mana dari tubuh pasangan yang paling Anda suka dan katakan alasannya. Ungkapan ini bisa menunjukkan kalau Anda memberi perhatian kepadanya hingga hal-hal terkecil dan detail sekalipun.

5. “Saya bangga padamu”
Sangat penting untuk memberi dukungan bagi pekerjaan atau ambisi pasangan. Dia sudah bersusah payah mendapatkan pekerjaan impiannya, jadi mengapa Anda tidak katakan betapa bangga Anda terhadapnya? Tidak perlu menunggu pencapaian besar terjadi hanya untuk mengatakan kalimat ini. Saat dia bisa membayar kartu kreditnya sendiri, menyelesaikan kursus ketrampilan, atau sedang berusaha mendapatkan promosi jabatan, katakan bahwa Anda bangga padanya. Hati perempuan akan luluh dan tiap kali dia “jatuh”, dia akan ingat kalimat ini dan berusaha untuk bangkit.

Sumber: http://sangatmenarik.wordpress.com/category/kumpulan-artikel-romantis/

Read More..

Surat dari Anak yang di Aborsi


Teruntuk Bundaku tersayang...

Dear Bunda...

Bagaimana kabar bunda hari ini? Smoga bunda baik-baik saja...nanda juga di sini baik-baik saja bunda... Allah sayang banget deh sama nanda. Allah juga yang menyuruh nanda menulis surat ini untuk bunda, sebagai bukti cinta nanda sama bunda....

Bunda, ingin sekali nanda menyapa perempuan yang telah merelakan rahimnya untuk nanda diami walaupun hanya sesaat...

Bunda, sebenarnya nanda ingin lebih lama nebeng di rahim bunda, ruang yang kata Allah paling kokoh dan paling aman di dunia ini, tapi rupanya bunda tidak menginginkan kehadiran nanda, jadi sebagai anak yang baik, nanda pun rela menukarkan kehidupan nanda demi kebahagiaan bunda. Walaupun dulu, waktu bunda meluruhkan nanda, sakit banget bunda....badan nanda rasanya seperti tercabik-cabik... dan keluar sebagai gumpalan darah yang menjijikan apalagi hati nanda, nyeri, merasa seperti aib yang tidak dihargai dan tidak diinginkan.

Tapi nanda tidak kecewa kok bunda... karena dengan begitu, bunda telah mengantarkan nanda untuk bertemu dan dijaga oleh Allah bahkan nanda dirawat dengan penuh kasih sayang di dalam syurga Nya.

Bunda, nanda mau cerita, dulu nanda pernah menangis dan bertanya kepada Allah, mengapa bunda meluruhkan nanda saat nanda masih berupa wujud yang belum sempurna dan membiarkan nanda sendirian di sini? Apa bunda tidak sayang sama nanda? Bunda tidak ingin mencium nanda? Atau jangan-jangan karena nanti nanda rewel dan suka mengompol sembarangan? Lalu Allah bilang, bunda kamu malu sayang... kenapa bunda malu? karena dia takut kamu dilahirkan sebagai anak haram... anak haram itu apa ya Allah? Anak haram itu anak yang dilahirkan tanpa ayah... Nanda bingung dan bertanya lagi sama Allah, ya Allah, bukannya setiap anak itu pasti punya ayah dan ibu? Kecuali nabi Adam dan Isa? Allah yang Maha Tahu menjawab bahwa bunda dan ayah memproses nanda bukan dalam ikatan pernikahan yang syah dan Allah Ridhoi. Nanda semakin bingung dan akhirnya nanda putuskan untuk diam.

Bunda, nanda malu terus-terusan nanya sama Allah, walaupun Dia selalu menjawab semua pertanyaan nanda tapi nanda mau nanyanya sama bunda aja, pernikahan itu apa sih? Kenapa bunda tidak menikah saja dengan ayah? Kenapa bunda membuat nanda jadi anak haram dan mengapa bunda mengusir nanda dari rahim bunda dan tidak memberi kesempatan nanda hidup di dunia dan berbakti kepada bunda? Hehe,,,maaf ya bunda, nanda bawel banget... nanti saja, nanda tanyakan bunda kalau kita ketemu

Oh ya Bunda, suatu hari malaikat pernah mengajak jalan-jalan nanda ke tempat yang katanya bernama neraka. Tempat itu sangat menyeramkan dan sangat jauh berbeda dengan tempat tinggal nanda di syurga. Di situ banyak orang yang dibakar pake api lho bunda...minumnya juga pake nanah dan makannya buah-buahan aneh, banyak durinya...yang paling parah, ada perempuan yang ditusuk dan dibakar kaya sate gitu, serem banget deh bunda.

Lagi ngeri-ngerinya, tiba-tiba malaikat bilang sama nanda, Nak, kalau bunda dan ayahmu tidak bertaubat kelak di situlah tempatnya...di situlah orang yang berzina akan tinggal dan disiksa selamanya. Seketika itu nanda menangis dan berteriak-teriak memohon agar bunda dan ayah jangan dimasukkan ke situ.... nanda sayang bunda... nanda kangen dan ingin bertemu bunda... nanda ingin merasakan lembutnya belaian tangan bunda dan nanda ingin kita tinggal bersama di syurga... nanda takut, bunda dan ayah kesakitan seperti orang-orang itu...

Lalu, dengan lembut malaikat berkata... nak,kata Allah kalau kamu sayang, mau bertemu dan ingin ayah bundamu tinggal di syurga bersamamu, tulislah surat untuk mereka... sampaikan berita baik bahwa kamu tinggal di syurga dan ingin mereka ikut, ajaklah mereka bertaubat dan sampaikan juga kabar buruk, bahwa jika mereka tidak bertaubat mereka akan disiksa di neraka seperti orang-orang itu.

Saat mendengar itu, segera saja nanda menulis surat ini untuk bunda, menurut nanda Allah itu baik banget bunda.... Allah akan memaafkan semua kesalahan makhluk Nya asal mereka mau bertaubat nasuha... bunda taubat ya? Ajak ayah juga, nanti biar kita bisa kumpul bareng di sini... nanti nanda jemput bunda dan ayah di padang Mahsyar deh... nanda janji mau bawain minuman dan payung buat ayah dan bunda, soalnya kata Allah di sana panas banget bunda... antriannya juga panjang, semua orang sejak jaman nabi Adam kumpul disitu... tapi bunda jangan khawatir, Allah janji, walaupun rame kalo bunda dan ayah benar-benar bertaubat dan jadi orang yang baik, pasti nanda bisa ketemu kalian.

Bunda, kasih kesempatan buat nanda ya.... biar nanda bisa merasakan nikmatnya bertemu dan berbakti kepada orang tua, nanda juga mohon banget sama bunda...jangan sampai adik-adik nanda mengalami nasib yang sama dengan nanda, biarlah nanda saja yang merasakan sakitnya ketersia-siaan itu. Tolong ya bunda, kasih adik-adik kesempatan untuk hidup di dunia menemani dan merawat bunda saat bunda tua kelak.

Sudah dulu ya bunda... nanda mau main-main dulu di syurga.... nanda tunggu kedatangan ayah dan bunda di sini... nanda sayang banget sama bunda....muach!

STOP SEX BEFORE MARRIED...
AVOID to ABORTION...!!!

Read More..

Nasionalisme Punya Musim?

Mungkin anda semua agak tergelitik atas judul artikel diatas. Rasa penasaran dan ingin tahu anda mulai timbul dari judul di atas. Kita semua pasti sudah sering mendengar kata Nasionalisme itu sendiri. Dari SD hingga SMA, kita sudah diberikan pelajaran PPKN, yang tentunya pelajaran tersebut bertujuan untuk meningkatkan rasa Nasionalisme kita terhadap Negara Indonesia. 

Sampai di bangku Perguruan Tinggi pun kita masih menemui pelajaran serupa walau dengan nama yang berbeda. Di FISIP sendiri, khususnya jurusan ilmu komunikasi untuk semester satu terdapat mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Mata kuliah yang membantu kita untuk membuka mata lebih lebar lagi akan kondisi negara kita saat ini dan tentunya mencari formula yang tepat untuk keadaan Indonesia saat ini.

Lalu ketika TIMNAS Indonesia mengikuti turnamen Pra-Piala Dunia, semua masyarakat Indonesia beramai-ramai mendatangi toko-toko baju olahraga untuk membeli seragam TIMNAS. Seragam dengan nama Christian Gonzales dan Irfan Bachdim tentunya sudah ditebak yang paling laris dibeli. Bila TIMNAS bertanding, Stadion Utama Gelora Bung Karno sudah pasti dipenuhi suporter-suporter Indonesia. Warna merah mendominasi disetiap sudut stadion. Tak ada tempat lagi bagi suporter tim lawan untuk mendukung negara kesayangannya. Semua berteriak lantang satu kalimat, yaitu Indonesia.

Namun, apa yang terjadi setelah kompetisi tersebut selesai? Kehidupan sehari-hari kembali berjalan seperti biasanya. Masyarakat yang dulu berteriak satu kalimat, Indonesia!!! Kini sudah mulai bercerai berai membela masing-masing klub daerahnya, dan saling mengejek satu sama lain. Kita pasti sudah tahu perseteruan abadi antara suporter Persija dengan Persib. Sudah tak bisa dihitung lagi kerusuhan antara kedua kelompok suporter tersebut.

Tinggalkan sejenak masalah sepakbola, coba kita tengok di lingkungan sekitar kita. Ada berapa banyak orang yang buang sampah sembarangan? Berapa banyak orang yang melanggar lalu lintas? Berapa banyak orang yang telat bayar pajak? Dan berapa banyak lagi orang yang selalu menanyakan "apa yang sudah negara berikan kepada kita ?", seharusnya pertanyaan itu dikembalikan kepada kita sendiri, "apa yang sudah kita berikan kepada negara ?".

Seperti yang sudah saya jabarkan di atas, kita semua pasti sudah tahu arti dari kata Nasionalisme, namun apakah kita sudah paham? Memberi semangat TIMNAS saat bertanding memang penting. Ini akan memberikan multivitamin tambahan bagi para pemain di lapangan. Tapi apa gunanya bila rasa Nasionalisme itu muncul hanya pada saat TIMNAS bertanding? Muncul pada saat para TKI disiksa oleh majikannya di luar negeri? Dan ketika NKRI berseteru dengan negara tetangga, Malaysia? 

Rasa Nasionalisme pada saat-saat tersebut cenderung hanya bersifat sementara, seperti Nasionalisme musiman. Ada kasus yang muncul dan menyangkut nama Indonesia, maka banyak masyarakat yang berteriak lantang mendukung Indonesia. Bila kasus-kasus tersebut sudah tak muncul lagi di ranah media, teriakan-teriakan Nasionalisme seakan-akan kembali diam membisu, seperti handphone yang sedang silent.

Tumbuhkan rasa Nasionalisme itu dari hal-hal kecil yang kita lakukan sehari-hari. Niscaya rasa itu kemudian akan tumbuh subur dihati kita. Hal-hal kecil itu diantaranya, seperti membayar pajak tepat waktu, menaati peraturan lalu lintas, dan membuang sampah pada tempatnya, serta ada banyak lagi yang lainnya. Karena arti singkat dari Nasionalisme itu sendiri adalah rasa cinta terhadap tanah air. Cintai negara mu, maka negara akan mencintai mu.

Dhany Dimas O
Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS

Read More..

time is...

contact me on...

about me...

My photo
Cilacap - Solo, Jawa Tengah, Indonesia
Hobinya sih motret, tapi bukan fotografer, cuma tukang foto biasa. Hasil foto dari segala jenis kamera. Sekadar share tentang dunia fotografi, jurnalistik, tugas kuliah, dan cerita-cerita lainnya. Happy Blogging...