Posted by
Dhany Oktriyanto
Tuesday, July 05, 2011
TUGAS UJIAN KOMPETENSI DASAR (KD) 3
MATA KULIAH KEWIRAUSAHAAN
Untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Moch. Najib Imanullah, SH, MH, Ph.D
DHANY DIMAS OKTRIYANTO
D0210028
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2011
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kita semua pastinya sudah mengetahui bahwa manusia adalah makhluk sosial. Artinya manusia tidak dapat hidup sendiri untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Perlu adanya manusia lain untuk membantu dalam mencapai/memperoleh kebutuhannya.
Setiap manusia mempunyai tujuan hidup yang berbeda-beda, namun ada beberapa manusia yang tujuan hidupnya sama dengan yang lain. Untuk mempermudah dalam pencapaian tujuan-tujuan tersebut, maka manusia yang memiliki tujuan yang sama membentuk sebuah organisasi.
Di dalam sebuah organisasi terdapat beberapa manusia yang bertugas untuk mengatur organisasi tersebut. Untuk menjadi pengatur dalam organisasi maka dipilihlah pemimpin. Pemimpin ini perannya saat ini sudah sangat vital bagi sebuah organisasi. Di perlukan kepemimpinan efektif untuk dapat membuat organisasi menjadi lebih maju dan dapat tercapai tujuan-tujuan organisasinya.
Dengan jiwa pemimpin tersebut, manusia akan dapat mengelola diri, organisasi dan lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penyelesaian masalah yang relatif rumit dan sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.
PEMBAHASAN
A. Arti Kepemimpinan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin mengira pemimpin dan kepemimpinan mempunyai arti yang sama, padahal arti dari kedua kata tersebut berbeda.
Pemimpin
Definisi dari pemimpin itu sendiri secara singkat ialah orang atau individu yang mempunyai tugas atau kewajiban untuk memimpin sebuah organisasi. Pemimpin sendiri perannya disebuah organisasi sangat vital atau dapat diibaratkan ia adalah seorang nahkoda di sebuah kapal besar yang sedang mengarungi samudra. Dilihat dari perannya yang sangat vital, seorang pemimpin diharuskan dapat mengarahkan organisasi yang dipimpinnya ke arah yang lebih baik.
Dilihat dari segi definisi atau arti dari pemimpin itu, banyak ahli yang mendefinisikan pemimpin berbeda-beda, namun dapat ditarik kesimpulan yang sama. Berikut ini ialah definisi-definisi pemimpin dari pendapat berbagai ahli yang dapat menjadi referensi bagi kita semua tentang arti pemimpin itu. Beberapa ahli tersebut diantaranya :
• Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan.
• Menurut Robert Tanembaum, Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan.
• Menurut Prof. Maccoby, Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius, dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif, kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan.
• Menurut Lao Tzu, Pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain, sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu.
• Menurut Davis and Filley, Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin.
• Sedangakn menurut Pancasila, Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong, menuntun, dan membimbing asuhannya. Dengan kata lain, beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila adalah :
- Ing Ngarsa Sung Tuladha : Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan dirinya sebagai pola panutan bagi orang-orang yang dipimpinnya.
- Ing Madya Mangun Karsa : Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang-orang yang dibimbingnya.
- Tut Wuri Handayani : Pemimpin harus mampu mendorong orang-orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.
Seorang individu yang mendapat wewenang sebagai pemimpin bisa saja berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri, akan tetapi itu semua tidak berarti apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Dari begitu banyak definisi-definisi dari beberapa ahli mengenai pemimpin, dapat saya simpulkan bahwa pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat, sikap, dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain.
Seseorang pemimpin diharuskan selalu melayani bawahannya sendiri lebih baik dari bawahannya tersebut melayani dia. Pemimpin yang baik dan ideal selalu memadukan kebutuhan dari bawahannya dengan kebutuhan organisasi dan kebutuhan masyarakat secara keseluruhannya.
Kepemimpinan
Dalam suatu organisasi apapun dan dimanapun, sebuah kepemimpinan memegang peranan yang penting. Bahkan segala sesuatu akan bangkit dan jatuh karena kepemimpinan itu sendiri. Setelah kita sedikit mengetahui definisi dari pemimpin, arti dari kepemimpinan sendiri ada hubungannya bahkan hubungannya sangat erat dengan pemimpin. Definisi dari kepemimpinan adalah bakat dan atau sifat yang harus dimiliki seorang atau individu untuk menjadi seorang pemimpin disebuah organisasi. Menurut Wikipedia, arti dari kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada bawahannya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
Sifat kepemimpinan bukan sekedar kepribadian yang memikat banyak orang, bukan pula kemampuan untuk berteman atau mempengaruhi orang lain. Karena hal-hal itu semua merupakan hal-hal yang dimiliki oleh seorang penjual, bukan seorang pemimpin. Kepemimpinan yang sebenarnya ialah mengangkat visi seseorang menjadi lebih tinggi, meningkatkan standar kinerja seseorang, dan membangun kepribadian seseorang melebihi batasan normalnya.
Sebuah kepemimpinan juga harus dilaksanakan atau dijalankan secara efektif sehingga dapat menjadi pedoman bagi bawahan-bawahannya serta dapat memajukan organisasi yang dipimpinnya. Di dunia organisasi dan bisnis khususnya di Indonesia, kepemimpinan yang efektif sangat dipengaruhi oleh kepribadian seorang pemimpin. Setiap pemimpin perlu memiliki dan menjalankan beberapa aspek kepribadian yang dapat menunjang usaha bisnis dan organisasinya dalam upaya mewujudkan hubungan sesama manusia yang efektif dengan anggota organisasinya. Salah satu contoh pemimpin di Indonesia yang sangat berpengaruh bagi kita semua ialah Soekarno. Ia adalah bapak proklamator yang mempunyai sifat kepemimpinan efektif.
Kepemimpinan Efektif
Sangat penting untuk dapat membedakan apa itu kepemimpinan dengan kepemimpinan yang efektif. Untuk menilai efektif tidaknya sebuah kepemimpinan di sebuah organisasi, kita harus melihat hasil dari kepemimpinan itu sendiri. Kriteria yang biasa dijadikan patokan sebuah kepemimpinan yang efektif adalah hasil kerjasama antar tiap unit di organisasi tersebut dan prestasi sebuah organisasi yang dipimpinnya ataupun unit bagiannya.
Seorang pemimpin yang dapat dikatakan efektif tidak hanya bisa mempengaruhi bawahannya sendiri namun juga dapat memberi motivasi agar para bawahannya bekerja dengan seluruh kemampuan dan potensi yang mereka punya untuk suatu organisasi/kelompok yang ia pimpin, sehingga tercipta suasana dan budaya kerja yang positif.
Banyak hal yang menentukkan kesuksesan suatu organisasi, dan salah satunya ialah kepemimpinan yang sedang berjalan dalam suatu organisasi. Ia juga dapat menetukan sukses atau tidaknya organisasi tersebut. Tentunya kepemimpinan tersebut ialah kepemimpinan yang efektif. Berikut ialah aspek-aspek yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin efektif, yaitu:
- Menciptakan Visi dan Misi yang Jelas dan Terarah
Tindakan awal bila kita ingin menjadi seorang pemimpin efektif ialah menetukan visi dan misi yang jelas. Seorang pemimpin yang efektif selalu dapat menetapkan tujuan, menetapkan prioritas, dan menetapkan serta dapat memelihara standar organisasi. Dapat diibaratkan seorang pemimpin efektif dapat melukis gambar garis akhir secara jelas. Pemimpin efektif harus berpikir mengenai apa yang benar dan apa yang diinginkan oleh bawahan serta organisasinya. Karena ia sadar bahwa ia tak bisa mengendalikan semesta alam beserta isinya.
- Berfokus pada Kekuatan Sendiri, Orang lain, dan Organisasi
Setelah pemimpin menetapkan visi dan misi, selanjutnya pemimpin efektif selalu berfokus pada beberapa kekuatan di luar kekuatan sendiri. Kekuatan tersebut ialah kekuatan diri sendiri, kekuatan orang lain, dan kekuatan organisasi. Seorang pemimpin efektif dapat membuat kekuatan menjadi efektif dan kelemahan menjadi tidak relevan. Itu sebabnya pemimpin efektif diharuskan membentuk tim impian yang efektif. Karena di dalamnya, terdapat ide-ide segar dari tiap pribadi dan melebur ke dalam akumulasi akal yang kolektif, dan kreativitas individu-individu menjelma menjadi kreativitas kolektif.
- Berkarakter dan Berani Mengambil Keputusan
Setelah berfokus pada kekuatan, aspek yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin efektif ialah berkarakter dan berani. Pemimpin efektif selalu memegang teguh konsistensi antara kata dan perbuatan. Seorang pemimpin juga memerlukan keberanian yang di atas rata-rata. Keberanian ini di lakukan untuk membantu seorang pemimpin dalam mengambil suatu keputusan yang sulit.
- Menanamkan Rasa Loyalitas
Pemimpin efektif mengajarkan loyalitas bagi seluruh bawahannya. Rasa loyalitas ini tidak didapatkan dengan cara dibeli atau sejenisnya, sehingga seorang pemimpin harus mendapatkannya dengan berusaha keras. Dari rasa loyalitas ini, pemimpin dapat memberikan kepercayaan kepada bawahan yang dianggap terbaik, sehingga kinerja bawahannya dapat meningkat. Dengan demikian, pemimpin harus dapat mempraktikkan apa yang dikatakan dengan bersikap loyal kepada para anak buah. Semua itu diikuti pula dengan pemberian masukan yang positif. Dari rasa loyalitas, pemimpin dapat memotivasi serta dapat menginspirasi bawahannya. Sehingga moral bawahanya akan meningkat dan itu akan menaikkan semangat kinerja mereka.
- Pengetahuan yang Luas
Seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan yang luas tentang kepemimpinan dan ilmu tentang ruang lingkup kerja profesinya. Ilmu itu terdiri dari pengetahuan kognitif maupun skill/keterampilan. Suatu saat nanti, seorang pemimpin akan dihadapkan pada situasi yang rumit dimana dia harus mengambil keputusan yang tepat untuk menyelasaikan masalah organisasinya. Dan dasar dari pengambilan keputusan tersebut adalah pengetahuan yang luas dan kemampuan berpikir kritis yang ia miliki.
- Kemampuan Untuk Berkomunikasi
Komunikasi sendiri adalah inti dari kepemimpinan. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan yang lebih untuk berkomunikasi ke sesama teman maupun bawahannya. Karena komunikasi yang baik merupakan salah satu strategi dalam mempengaruhi orang lain dan dapat juga menciptakan hubungan yang positif antara bawahan dan atasan, sehingga tercipta lingkungan kerja yang baik.
- Mempersiapkan Pemimpin Masa Depan/Penerusnya
Di pundak para pemimpin hebat terdapat beban dan tanggung jawab untuk mengembangkan seorang pemimpin yang akan memimpin organisasi mereka di masa depan. Penerus kepemimpinan efektif merupakan kunci bagi masa depan organisasi yang di pimpinnya saat ini. Tugas terakhir bagi pemimpin efektif ialah menciptakan energi insani yang lebih baik dari mereka untuk memimpin organisasinya di masa yang akan datang/regenerasi penerus.
Kepemimpinan efektif harus memberikan arahan dan tuntunan terhadap kinerja semua bawahan dalam upaya mencapai tujuan-tujuan organisasi. Tanpa kepemimpinan, hubungan antara tujuan perseorangan dan organisasi mungkin akan renggang. Keadaan ini akan menimbulkan situasi dimana perseorangan bekerja untuk mencapai tujuan pribadinya, sementara itu keseluruhan organisasi menjadi tidak efisien dalam mencapa sasaran-sasarannya
PENUTUP
Kesimpulan
Kepemimpinan efektif saat ini sangat diperlukan bagi semua organisasi. Karena ia tidak hanya bisa mempengaruhi bawahannya sendiri namun juga dapat memberi motivasi agar para bawahannya bekerja dengan seluruh kemampuan dan potensi yang mereka punya untuk mencapai tujuan suatu organisasi/kelompok yang ia pimpin, sehingga tercipta suasana dan budaya kerja yang positif.
Rahasia dalam kepemimpinan efektif adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya saja, bukan juga dari kecerdasannya, namun dari kekuatan dalam dirinya/personality.
Seorang pemimpin yang efektif selalu berusaha memperbaiki dirinya sendiri sebelum memperbaiki orang lain. Kata pemimpin disini bukan sekedar gelar, jabatan, atau nama saja yang diberikan dari luar organisasi. Melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan itu sendiri lahir dari proses-proses internal (leadership from the inside out).
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku:
• Thoha, Miftah. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta: CV. Rajawali, 1985.
• Winardi. Manajemen Personalia. Bandung : Abardin, 1990.
• Ranupandojo, Heidjrachman dan Suad Husnan. Manajemen Personalia. Yogyakarta: BPFE, 1996.
Sumber Internet:
• http://emperordeva.wordpress.com/
• http://trustcosurabaya.com/
Read More..
Posted by
Dhany Oktriyanto
Friday, June 03, 2011
KELOMPOK SOSIAL DALAM MASYARAKAT
TUGAS PENGANTAR SOSIOLOGI
DHANY DIMAS OKTRIYANTO
D0210028
ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2010/2011
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kita memahami bahwa manusia adalah makhluk sosial dan karena itu manusia tidak dapat hidup tanpa manusia lainnya. Sehingga untuk melangsungkan kehidupannya, manusia senantiasa hidup berkelompok. Ini bukan karena tak ada alasannya. Manusia cenderung hidup berkelompok salah satunya dikarenakan untuk mempermudah pekerjaannya karena setiap manusia akan saling membantu manusia lainnya jika manusia tersebut butuh bantuan. Kemudian alasan lainnya ialah karena faktor kepentingan yang sama.
Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti mempunyai sebuah tujuan atau motto hidup. Tak dapat di pungkiri tujuan hidup tiap manusia berbeda beda jenisnya, namun ada kalanya beberapa tujuan yang sama. Sesama manusia yang mempunyai tujuan hidup yang sama cenderung saling bergabung. Ini mungkin dikarenakan kepentingan yang sama dalam menggapai tujuan tersebut. Kelompok sosial tersebut contohnya ada kelompok berburu, kelompok tani, kelompok arisan, kelompok belajar, kelompok pecinta lingkungan hidup, dll.
Seiring dengan perjalanannya, ada dua sifat kelompok sosial yang berkembang di sekitar masyarakat, yaitu kelompok yang positif dan kelompok yang negatif. Dilihat dari namanya, keduanya sudah terlihat sangat bertolak belakang. Kepribadian kita salah satunya terbentuk dari kelompok sosial di atas. Baik buruknya kepribadian kita tergantung pada kelompok yang kita masuki.
PEMBAHASAN
1. Pengertian
Kelompok sosial merupakan salah satu fokus perhatian pusat pemikiran sosiologis, oleh karena titik tolaknya adalah kehidupan bersama. Pengertian kelompok sosial yang pertama adalah suatu sistem sosial yang terdiri dari sejumlah orang yang berinteraksi satu sama lain dan terlibat dalam satu kegiatan bersama. Tentunya perlu dipertajam lebih lanjut mengenai pengertian ini karena interaksi saja tidak cukup, karena dua orang saja sudah dapat membentuk kelompok. Pengertian interaksi di sini haruslah diartikan sebagai interaksi tatap muka, di mana mereka terlibat dalam ruang dan waktu. Dari sinilah muncul pengertian kedua, yaitu sejumlah orang yang mengadakan hubungan tatap muka secara berkala karena mempunyai tujuan dan sikap bersama; hubungan-hubungan yang diatur oleh norma-norma; tindakan-tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan kedudukan (status) dan peranan (role) masing-masing dan antara orang-orang itu terdapat rasa ketergantungan satu sama lain.
2. Penggolongan Kelompok Sosial
Kelompok sosial adalah kesatuan sosial yang terdiri dari dua atau lebih individu yang mengadakan interaksi sosial agar ada pembagian tugas, struktur dan norma yang ada. Berdasarkan pengertian tersebut kelompok sosial dapat dibagi menjadi beberapa, antara lain:
a. Kelompok Primer
Merupakan kelompok yang didalamnya terjadi interaksi sosial yang anggotanya saling mengenal dekat dan berhubungan erat dalam kehidupan.
b. Kelompok Sekunder
Jika interaksi sosial terjadi secara tidak langsung, berjauhan, dan sifatnya kurang kekeluargaan. Misalnya: partai politik, perhimpunan serikat kerja dan lain-lain.
c. Kelompok Formal
Pada kelompok ini ditandai dengan adanya peraturan atau Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART) yang ada. Anggotanya diangkat oleh organisasi. Contoh dari kelompok ini adalah semua perkumpulan yang memiliki AD/ART.
d. Kelompok Informal
Suatu kelompok yang tumbuh dari proses interaksi, daya tarik, dan kebutuhan-kebutuhan seseorang. Misalnya: kelompok arisan.
e. Kelompok referensi
Merupakan kelompok sosial yang menjadi ukuran bagi seseorang (bukan anggota kelompok) untuk membentuk pribadi dan perilakunya. Seseorang itu telah menyetujui norma, sikap, dan tujuan dari kelompok tersebut.
f. Kelompok Membership
Merupakan kelompok di mana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Keenam kelompok sosial di atas merupakan kelompok sosial yang teratur. Adapun kelompok sosial yang tidak teratur adalah : kerumunan (crowd) dan publik dalam berbagai bentuk.

contoh kelompok sosial dalam masyarakat
3. Contoh Kelompok Sosial di Dalam Masyarakat
Penulis disini akan mencontohkan 2 kelompok sosial di dalam masyarakat yang positif dan yang negatif dari hasil penelitian yang dilakukan beberapa hari yang lalu. Penulis akan menjabarkan 2 kelompok sosial yang banyak di ikuti oleh para remaja saat ini. Pertama ialah kelompok sosial para remaja belajar bersama atau kelompok belajar bersama, dan yang kedua kelompok sosial para remaja yang membentuk geng-geng sekolah atau kelompok geng sekolah.
a. Kelompok Belajar Bersama
Kelompok belajar bersama salah satu fungsinya ialah sebagai suatu wadah atas proses belajar yang disokong oleh anggota-anggotanya, sehingga ada ketergantungan antar sesama anggota untuk mencapai suatu tujuan yang disepakati bersama. Tujuan itu umumnya adalah untuk bersama-sama mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan semoga mendapat berkah dari-Nya.
Di negara kita sendiri khususnya di daerah daerah, telah banyak tumbuh tempat-tempat berkumpul bagi kelompok belajar bersama. Bukan hanya para remaja yang masih menginjak bangku SMP dan SMA, para mahasiswa juga banyak yang mengadakan kelompok belajar bersama. Ini bertujuan untuk lebih mendalami materi materi yang sudah di ajarkan disekolah ataupun dikampus. Contoh yang paling mudah ialah : ketika kita di sekolah dulu, kita dibagi oleh guru ke dalam beberapa kelompok untuk mengerjakan tugas tertentu, misalnya prakarya, menerjemahkan buku, merangkum, menyelesaikan soal fisika, biologi, kimia, maupun tugas-tugas lainnya. Bahkan ada juga kelompok yang dibentuk oleh guru sekolah untuk menjadi kelompok belajar ilmu nyanyi atau paduan suara.
Banyak manfaat yang bisa didapat jika kita membentuk kelompok belajar bersama, antara lain:
- Belajar dengan membentuk kelompok belajar sendiri dapat memotivasi semangat belajar antara teman satu dengan lainnya.
- Saling berbagi informasi dan pengetahuan antara teman. Teman yang pandai dapat mengajari dan menularkan kepandaiannya kepada teman lainnya dalam satu kelompok belajar.
- Membangun komunikasi timbal balik dengan adanya diskusi.
- Bekerjasama menyelesaikan PR sekaligus bersosialisasi di luar sekolah.
Cara ini sangat dianjurkan bagi anak yang mempunyai tipe malu bertanya kepada guru atau dosen. Karena apabila belajar bersama dengan teman-teman, anak tersebut diharapkan tak malu bertanya kepada temannya sendiri bila ada materi yang belum dia mengerti.
b. Kelompok Geng Sekolah
Selama tahun 2008 lalu, kita dikejutkan dengan berita berita yang mengagetkan, yaitu berbagai tingkah polah anak-anak usia sekolah yang mengatasnamakan “geng”. Di mulai dari Geng Motor di Bandung, Geng Nero di Pati, dan terakhir informasi tentang Geng Brinkar. Mereka juga menggunakan sistem perekrutan layaknya sebuah organisasi, namun cara yang digunakan adalah dengan menjurus ke arah kekerasan, yang katanya digunakan untuk menguji kekuatan mentalnya. Sehingga setelah anggota yang baru bergabung, mereka juga siap mentalnya dengan yang senior.
Kalau kita lihat kejadian seperti diatas, ini membuktikan bahwa sikap, mental dan akhlaq beberapa anak Indonesia sudah jauh melanggar norma yang berlaku, baik norma agama, kesusilaan, kesopanan, maupun hukum. Tindakan yang anarkhis yang dilakukan secara berkelompok, membuktikan bahwa mereka sudah tidak menggunakan akal sehatnya, mereka sudah tidak peduli dengan aturan norma di masyarakat. Mereka sudah tidak mampu lagi berpikir positif dan konstruktif. Pelanggaran norma yang dilakukan secara berkelompok, juga menandakan bahwa mereka cenderung egois, baik secara pribadi maupun berkelompok. Mereka sudak tidak mempedulikan keselamatan diri dan orang lain.
Itu semua mungkin dapat di cegah secara dini melalui keluarga itu sendiri, khususnya para orang tua. Penulis disini akan memberikan sedikit saran kepada para orangtua. Mereka seharusnya lebih proaktif sebagai partner dan mengarahkan anak-anak mereka dalam aneka pergaulan sosial yang positif.
Geng sekolah sesungguhnya bisa menjadi ajang curhat, diskusi, atau belajar mencari solusi atas permasalahan anggotanya sehingga masing-masing mengenal karakternya sendiri maupun orang lain. Geng yang demikian otomatis akan menjadi produktif serta justru meningkatkan prestasi belajar mereka.
PENUTUP
Kesimpulan:
Dari hasil penelitian di atas tentang kelompok sosial di masyarakat khususnya di antara para remaja Indonesia dapat ditarik kesimpulan, yaitu:
1. Manusia adalah makhluk sosial, pernyataan itu sudah tak terelakkan lagi dan karena itu manusia tidak dapat hidup tanpa manusia lainnya.
2. Di sekitar lingkungan masyarakat terdapat beberapa kelompok sosial, ada yang kegiatannya cenderung ke arah negatif, adapula yang ke arah positif.
3. Peran orang tua sangat vital dalam membentuk kepribadian anak dan agar anak tak terjebak ke dalam kelompok sosial yang cenderung ke arah negatif.
4. Kedua kelompok sosial yang kita bahas diatas memiliki efek yang berbeda beda pada pembentukan kepribadian individu.
Daftar Pustaka:
- http://id.wikipedia.org/
- http://wikipedia.com/
- http://www.akujagoan.com/
- Jabal Tarik Ibrahim.2003.Sosiologi Pedesaan.Malang: UMM Press.
Read More..
Posted by
Dhany Oktriyanto
STRATIFIKASI SOSIAL
(Social Stratification)
MATA KULIAH PENGANTAR SOSIOLOGI
DHANY DIMAS OKTRIYANTO
D0210028
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2010/2011
STRATIFIKASI SOSIAL
Stratifikasi sosial (Social Stratification) berasal dari kata bahasa latin “stratum” (tunggal) atau “strata” (jamak) yang berarti berlapis-lapis. Dalam Sosiologi, stratifikasi sosial dapat diartikan sebagai pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat. Beberapa definisi stratifikasi sosial:
a. Pitirim A Sorokin: Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat (hierarki).
b. Max Weber: Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan
hierarki menurut dimensi kekuasaan, previllege dan prestise.
c. Cuber: Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai suatu pola yang ditempatkan di atas kategori dari hak-hak yang berbeda.
Stratifikasi sosial adalah demensi vertikal dari struktur sosial masyarakat, dalam artian melihat perbedaan masyarakat berdasarkan pelapisan yang ada, apakah berlapis-lapis secara vertical dan apakah pelapisan tersebut terbuka atau tertutup.
Soerjono Soekanto (1981: 133), menyatakan social stratification adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atau system berlapis-lapis dalam masyarakat. Stratifikasi sosial merupakan konsep sosiologi, dalam artian kita tidak akan menemukan masyararakat seperti kue lapis; tetapi pelapisan adalah suatu konsep untuk menyatakan bahwa masyarakat dapat dibedakan secara vertikal menjadi kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah berdasarkan kriteria tertentu.
Paul B Horton dan Chester L Hunt ( 1992: 5 ) menyatakan bahwa stratifikasi sosial merupakan sistem peringkat status dalam masyarakat. Peringkat memberitahukan kepada kita adanya demensi vertikal dalam status sosial yang ada dalam masyarakat.
Paul B Horton ( 1982 : 4) mengatakan bahwa Dua ribu tahun yang lalu Aristoteles mengemukakan bahwa penduduk dapat dibagi ke dalam tiga golongan:
1. Golongan sangat kaya.
2. Golongan sangat miskin.
3. Golongan yang berada diantara mereka.
Menurut Aristoteles, golongan orang-orang sangat kaya ditempatkan dalam lapisan atas oleh masyarakat, sedangkan golongan orang-orang melarat atau sangat miskin ditempatkan dalam lapisan bawah, dan golongan orang-orang di tengah ditempatkan dalam lapisan masyarakat menengah. Kelas menengah merupakan kelas yang selama ini membuat kestabilan dalam masyarakat. Kelas menengah ini memiliki posisi penting dalam rangka menjaga kestabilan masyarakat.
Ucapan Aristoteles ini membuktikan bahwa terjadinya lapisan-lapisan dalam masyarakat sudah ada sejak zaman itu bahkan diduga bahwa zaman sebelumnya telah diakui adanya tingkatan atau lapisan-lapisan di dalam masyarakat.
Lalu menurut Karl Marx, kelas sosial utama terdiri atas 3 golongan, yaitu:
1. Golongan proletariat.
2. Golongan kapitalis (borjuis).
3. Golongan menengah (borjuis rendah).
Kemudian Thorstein Veblen, membedakan kelas berdasar pada kualitas, yaitu:
1. Productie class, dan
2. Leisure class (berdasar pada pembagian pekerjaan)
Productive class adalah pekerjaan yang langsung berhubungan dengan produksi bahan sehari-hari (pangan, sandang, dll). Lalu Leisure class adalah pekerjaan dibidang pemerintahan, terhormat, upper class.
Veblen memiliki jalan pikirannya sendiri yang berbeda dengan ekonom pada zamannya. Veblen menolak garis pemikiran kalsik dan neo klasik . Veblen membantah teori klasik yang berpandangan bahwa kaehidupan manusia lebih diatur oleh hukum alam, dan teori neoklasik yang menyatakan bahwa manusia dalam kegiatan ekonominya terdorong oleh hasrat untuk mengejar faedah secara maksimal. Hal ini menurut Veblen manusia direndahkan menjadi manusia ekonomi belaka (homo economicus) yang terdorong motivasi hidup yang dikenal dengan hedonisme. Veblen beranggapan bahwa perilaku manusia di bidang ekonomi dipengaruhi oleh iklim keadaan sekitar dalam zaman tertentu . Iklim keadaan itulah yang mempengaruhi kompleks cita rasa dan pikiran , naluri dan nalar, persepsi dan perspektif permasalahan ekonomi.
Fenomena yang diamati oleh Veblen adalah kaum entrepreneur kapitalis yang dijuluki sebagai railroad barons yang memiliki kepentingan dalam industri baja dan pertambangan batu bara. Pengelolaan dan usaha di serahkan kepada tenaga ahli professional. Fenomena ini disebut Veblen sebagai absentee ownership. Bersumber dari absentee ownership tumbuh masyarakat yang disebut leisure class.
Pendapat di atas merupakan suatu penggambaran bahwa stratifikasi sosial sebagai gejala yang universal, artinya dalam setiap masyarakat bagaimanapun juga keberadaanya pasti akan di dapatkan pelapisan sosial tersebut. Apa yang dikemukakan Aristoteles, Karl Marx, dan Thorstein Veblen adalah salah satu bukti adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat yang sederhana sekalipun. Kriteria jenis kekayaan dan juga profesi pekerjaan merupakan criteria yang sederhana, sekaligus menyatakan bahwa dalam masyarakat kita tidak akan menemukan masyarakat tanpa kelas.
Menurut Soerjono Sokanto ( 1981 : 133) Selama dalam suatu masyatrakat ada sesuatu yang dihargai dan setiap masyarakat mempunyai sesuatu yang dihargainya, maka barang sesuatu itu akan menjadi bibit yang dapat menimbulkan adanya sistem berlapis-lapis yang ada dalam masyarakat itu. Barang sesuatu yang dihargai di dalam masyarakat itu mungkin berupa uang atau benda-benda yang bernilai ekonomis, mungkin juga berupa tanah, kekuasan, ilmu pengetahuan, kesalehan dalam agama atau mungkin juga keturunan dari keluarga yang terhormat.
Sehingga menurut saya, dilihat dari perkembangan zaman dan perkembangan ekonomi dari tahun ke tahun, pendapat dari Aristoteles lah yang mendekati kebenaran dari pembagian kelas stratifikasi sosial di masyarakat sekitar kita pada saat ini. Karena menurut Aristoteles, orang-orang kaya sekali ditempatkan dalam lapisan atas oleh masyarakat, sedangkan orang-orang melarat ditempatkan dalam lapisan bawah, dan orang-orang di tengah ditempatkan dalam lapisan masyarakat menengah.
Terjadinya stratifikasi sosial dalam masyarakat dikarenakan sesuatu yang dihargai dalam masyarakat jumlahnya terbatas, akibatnya distribusinya di dalam masyarakat tidaklah merata. Mereka yang memperoleh banyak menduduki kelas atas dan mereka yang tidak memperoleh menduduki kelas bawah.
Sumber:
- http://silvergrey23.blogspot.com/2009/11/teori-institusionalisme.html
- http://wawan-junaidi.blogspot.com/
- http://www.wikipedia.com/
- http://www.google.com/
Read More..
Posted by
Dhany Oktriyanto
Monday, January 10, 2011
VISI DALAM DUNIA KOMUNIKASI
TUGAS PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI
DHANY DIMAS OKTRIYANTO
D0210028
ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2010/2011
A. PENDAHULUAN
Pada jaman dahulu kala mungkin sebagian besar orang mengira bahwa ilmu komunukasi tidak terlalu penting untuk dipelajari. Ini disebabkan mungkin karena orang-orang lebih tertarik kepada ilmu-ilmu yang lain yang lebih penting. Alasan lain, sebagian besar orang mengatakan komunikasi itu tidak terlalu penting karena komunikasi sudah menjadi kebiasaan yang terjadi di dalam masyarakat. Padahal apabila kita telusuri lebih lanjut tentang hakekat ilmu komunikasi, maka ilmu komunikasi adalah ibu dari segala ilmu. Mengapa disebut ibu dari segala ilmu? Ini dikarenakan semua ilmu ilmu tak akan berkembang tanpa adanya komunikasi, sehingga komunikasi sangat berpengaruh dalam kehidupan kita.
Dewasa ini penelitian-penelitian komunikasi terus menerus dilakukan. Sejumlah jurnal ilmiah dalam bidang komunikasi terbit. Sejumlah karya ilmiah telah menjadi karya klasik dalam ilmu komunikasi seperti The People Choice, The Passing of Traditional Society, Mass Media and National Development, Personal Influence, Understanding Media, The Process and Effect of Communication, Public Opinion, dan sebagainya.
Demikian pula sejumlah figurnya seperti Paul F. Lazarfeld, Wilbur Schramm, Harold Lasswell, Walter Lippmann, Bernard Berelson, Carl Hovland, Elihu Katz, Daniel Lerner, David K. Berlo, Shannon, McComb, George G. Gebner, dan sebagainya telah dikenal sebagai tokoh-tokoh dalam kajian ilmu komunikasi. Sedangkan di Indonesia terdapat sejumlah figur penting dalam bidang Ilmu Komunikasi seperti M. Alwi Dahlan, Astrid Susanto Sunario, Andi Muis, Jalaludin Rahmat, Ashadi Siregar, Anwar Arifin, Hafid Changara, Dedy N. Hidayat, Marwah Daud Ibrahim, Onong Efendi Uchayana, dan sebagainya. Karya-karya mereka telah memberi warna bagi eksistensi kajian ilmu komunikasi di Indonesia.
Dengan didahului dengan munculnya tokoh-tokoh ilmu komunikasi, kemudian di era globalisasi saat ini, komunikasi berubah menjadi barang yang sangat berharga. Semua orang rela mempelajari ilmu komunikasi selama bertahun tahun. Karena pada jaman sekarang semua orang di tuntut dapat bekerja sama dan berkomunikasi antar individu atau antar kelompok dengan baik dalam pekerjaannya. Banyak orang yang beranggapan tingkah laku seseorang dapat disimpulkan dari tutur katanya. Maka bila ada lowongan pekerjaan di suatu perusahaan, para petinggi perusahaan tersebut pasti mengikutsertakan test wawancara sebagai salah satu syarat untuk dapat diterima di perusahaan tersebut.
Dibagian media massa, komunikasi juga sudah menjadi peran utama dalam sendi sendi kehidupan. Koran sudah menjadi makanan utama masyarakat di Indonesia. Walau tak dapat dipungkiri bahwa jumlah pembaca masih cukup rendah. Di dalam koran terdapat banyak informasi informasi yang memancing para pembacanya untuk saling berkomunikasi. Kemudian handphone (hp) dan internet, keduanya bisa dibilang menjadi bintang pada masa globalisasi saat ini.
Tak dapat dipungkiri bahwa tanpa adanya kedua alat komunikasi ini, kita tak dapat berhubungan dengan kerabat famili ataupun orang lain yang letaknya jauh berpuluh bahkan beribu kilometre disana. Selain itu, internet juga dapat digunakan sebagai sumber pengetahuan. Segala sesuatu informasi yang kita butuhkan pasti ada di internet. Akan tetapi kedua alat komunikasi tersebut memang ada efek negatifnya. Ini lah tantangan kita untuk dapat memilih dan memilah efek positif dan efek negatif dari kedua alat komunikasi tersebut.
B. ISI
Kata atau istilah komunikasi (dalam bahasa Inggris “communication”), berasal dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis. Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.
Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia. Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan Steward(1998:16) mengenai komunikasi manusia yaitu: Human communication is the process through which individuals –in relationships, group, organizations and societies—respond to and create messages to adapt to the environment and one another. Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain. Sehingga arti dari komunikasi ialah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media terrtentu untuk menghasilkan efek /tujuan dengan mengharapkan feedback atau umpan balik.
Beberapa definisi komunikasi dari berbagai tokoh:
1. John R. Wenburg dan William Wilmot:
"Komunikasi adalah suatu usaha memperoleh makna"
2. Donald Byker dan Loren J. Anderson:
"Komunikasi (manusia) adalah berbagi informasi antara dua orang atau lebih"
3. William Gorden:
"Komunikasi secara ringkas dapat didefinisikan sebagai suatu transaksi dinamis yang melibatkan gagasan dan perasaan"
4. Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson:
"Komunikasi adalah proses memahami dan berbagi makna"
5. Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss:
"Komunikasi adalah proses pembentukan makna di antara dua orang atau lebih"
Komunikasi terdiri dari berbagai fungsi, yaitu fungsi komunikasi sosial, komunikasi ekspresif, komunikasi ritual, dan komunikasi instrumental. Fungsi komunikasi yang sering kita lakukan ialah fungsi komunikasi sosial. Karena kita adalah makhluk sosial dan kita hidup di masyarakat, yang menuntut kita agar berkomunikasi secara terus menerus atau continue. Akibat dari komunikasi sosial maka terjadilah fungsi komunikasi ekspresif, yaitu suatu komunikasi yang dilakukan sebagai respon dari komunikasi sosial yang terjadi secara tiba-tiba.
Mungkin diliat dari contoh diatas, komunikasi terlihat sangat sederhana. komunikasi terjadi ketika dua individu saling berinteraksi kemudian terjadi lah komunikasi. Akan tetapi komunikasi sebenarnya sangat rumit untuk dipelajari. Lihat saja kerusuhan yang sudah sering terjadi, jika kita telusuri akar dari kerusuhan-kerusuhan tersebut, tidak lepas dari salahnya pengartian sebuah komunikasi. Di samping itu para pengusaha dunia dan motivator-motivator ulung yang berhasil dalam bidang-bidang mereka yang tidak lepas dari keahlian mereka dalam berkata-kata dan berkomunikasi.
Maka dari itu, dilihat dari pentingnya sebuah komunikasi kita harus memiliki sebuah visi tentang komunikasi agar kita tak terjebak dalam efek negatif komunikasi. Visi sendiri merupakan pandangan kita terhadap suatu hal yang memuat rencana kerja untuk membawa suatu organisasi di masa depan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan kata lain, visi merupakan sebuah cita-cita yang ingin kita raih dalam waktu yang kita rencanakan.
Alat komunikasi (teknologi) yang beredar saat ini sudah sangat membantu kita dalam menangani sebuah masalah kehidupan. Namun, kita harus mengontrol diri terhadap teknologi komunikasi yang beredar saat ini. Dengan adanya kontrol diri yang baik, kita akan terhindar dari efek negatif dan akan menyerap efek positif dari teknologi tersebut. Lalu selain mengontrol diri, kita juga perlu melakukan inovasi-inovasi dalam dunia alat komunikasi. Tiap tahun alat komunikasi di dunia ini tanpa kita sadari selalu berkembang pesat. Selain mengikuti perkembangan alat komunikasi, kita juga di anjurkan mengadakan inovasi-inovasi terhadap alat komunikasi agar ilmu ilmu yang sudah kita serap dari efek positif teknologi tidak terbuang percuma. Dan melatih kita agar menjadi manusia yang lebih kreatif dan bermanfaat bagi manusia sekitar.
Visi saya dalam dunia komunikasi dewasa ini ialah menciptakan masyarakat yang sadar akan informasi dan komunikasi dan membangun dalam diri masyarakat tersebut agar lebih menerima perubahan-perubahan yang positif agar dapat memajukan dan mensejahterakan kehidupan mereka.
Untuk itu diperlukan usaha-usaha untuk mendukung visi di atas, antara lain:
1. Membatasi pengguna internet.
Penyedia layanan internet di anjurkan untuk membatasi penggunaan internet. Sepeti yang kita ketahui, internet merupakan salah satu sumber ilmu pengetahuan, namun banyak juga sisi negatif dari internet. Oleh karena itu perlu di batasi umur pengguna internet. Kita yang sudah cukup umur atau dewasa mungkin sudah bisa memilih dan memilah mana informasi yang positif dan mana informasi yang negatif. Namun bagi anak-anak yang masih belum tahu banyak tentang dunia internet, mereka mungkin akan terjerumus ke lembah hitam. Keberadaan internet bagi anak-anak memang belum begitu penting. Akan tetapi, apabila para orang tua ingin mengajarkan sesuatu dengan cara yang berbeda, internet lah jawabannya. Saya disini bukan melarang anak-anak untuk membuka internet, tetapi pada saat anak-anak mulai membuka internet sebaiknya anak-anak didampingi oleh orang tua atau orang dewasa agar informasi yang masuk merupakan informasi yang positif dan dapat membangun ilmu pengetahuan anak tersebut.
2. Mengoptimalkan kegunaan dari alat komunikasi.
Dewasa ini mungkin kegunaan dari alat komunikasi (handphone/internet) sudah cukup baik, namun ada kalanya kegunaan itu di salah gunakan. Sudah marak terjadi penipuan berhadiah via SMS atau telepon. Lalu melalui media internet, banyak juga penipuan-penipuan dan pencemaran nama baik serta ada juga yang lainnya. Maka dari itu kita seharusnya lebih mengoptimalkan kegunaan dari alat komunikasi kearah yang positif dan meminimalisir dampak negatif yang di timbulkan dari alat komunikasi tersebut.
3. Peran pemerintah dalam mengawasi alat komunikasi.
Peran pemerintah pada hal ini tak dapat dipisahkan. Pemerintah sebaiknya mengadakan proteksi dan proaktif terhadap alat komunikasi yang beredar saat ini. Agar masyarakatnya dapat lebih merasakan kegunaan dari alat komunikasi tersebut sehingga dapat mensejahterakan kehidupan mereka sendiri.
C. PENUTUP
Kesimpulan:
- Komunikasi ialah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media terrtentu untuk menghasilkan efek /tujuan dengan mengharapkan feedback atau umpan balik.
- Komunikasi memiliki 4 fungsi yaitu, komunikasi sosial, komunikasi ekspresif, komunikasi ritual, dan komunikasi instrumental.
- Visi saya dalam dunia komunikasi ialah menciptakan masyarakat yang sadar akan informasi dan komunikasi dan membangun dalam diri masyarakat tersebut agar lebih menerima perubahan-perubahan yang positif agar dapat memajukan dan mensejahterakan kehidupan mereka.
Saran:
- Dalam konteks penggunaan teknologi informasi hendaknya pemerintah melakukan pengawasan, baik untuk pengguna maupun penyedia. Agar teknologi tersebut sesuai dengan fungsi dan kegunaan yang semestinya.
- Ilmu komunkasi secara tidak langsung mengasah individu untuk lebih aktif dan kritis, sehingga ilmu komunikasi memberikan bekal untuk menjadi seseorang individu yang terampil dan sukses dimasa akan datang.
Read More..
Posted by
Dhany Oktriyanto
TUGAS UJIAN KOMPETENSI DASAR (KD) 1
MATA KULIAH ILMU KOMUNIKASI
DHANY DIMAS OKTRIYANTO
D0210028
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2010/2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Komunikasi adalah proses pengiriman dan penerimaan informasi atau pesan antara dua orang atau lebih dengan cara yang efektif, sehingga pesan yang dimaksud dapat dimengerti. Dalam penyampaian atau penerimaan informasi ada dua pihak yang terlibat yaitu :
1. Komunikator : Orang / kelompok orang yang menyampaikan informasi atau pesan
2. Komunikan : orang atau kelompok orang yang menerima pesan.
Dalam berkomunikasi keberhasilan komunikator atau komunikan sangat ditentukan oleh beberapa faktor yaitu : Cakap, Pengetahuan, Sikap, Sistem Sosial, Kondisi lahiriah. Menurut Lasswell, Effendy (1994:11-19) membedakan proses komunikasi menjadi dua tahap, yaitu:
1. Proses komunikasi secara primer
Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah pesan verbal (bahasa), dan pesan nonverbal (kial/gesture, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya) yang secara langsung dapat/mampu menerjemahkan pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan.
Komunikasi berlangsung apabila terjadi kesamaan makna dalam pesan yang diterima oleh komunikan. Dengan kata lain, komunikasi adalah proses membuat pesan yang setara bagi komunikator dan komunikan. Prosesnya sebagai berikut, pertama-tama komunikator menyandi (encode) pesan yang akan disampaikan disampaikan kepada komunikan. Ini berarti komunikator memformulasikan pikiran dan atau perasaannya ke dalam lambang (bahasa) yang diperkirakan akan dimengerti oleh komunikan. Kemudian giliran komunikan untuk menterjemahkan (decode) pesan dari komunikator. Ini berarti ia menafsirkan lambang yang mengandung pikiran dan atau perasaan komunikator tadi dalam konteks pengertian. Yang penting dalam proses penyandian (coding) adalah komunikator dapat menyandi dan komunikan dapat menerjemahkan sandi tersebut (terdapat kesamaan makna).
2. Proses komunikasi sekunder
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.
Seorang komunikator menggunakan media ke dua dalam menyampaikan komunikasike karena komunikan sebagai sasaran berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dsb adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi. Proses komunikasi secara sekunder itu menggunakan media yang dapat diklasifikasikan sebagai media massa (surat kabar, televisi, radio, dsb.) dan media nirmassa (telepon, surat, megapon, dsb.).
Dari penjabaran di atas, komunikasi berperan penting bagi kehidupan manusia, karena manusia itu sendiri dikenal sebagai makhluk sosial. Setiap saat pasti manusia di dunia ini melakukan komunikasi, baik itu komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal.
B. PEMBATASAN MAKALAH
• Pengertian Ilmu komunikasi
• Komunikasi Sosial
C. TUJUAN PENULISAN MAKALAH
• Untuk mengetahui dan mempelajari Ilmu Komunikasi
• Untuk mengetahui dan mempelajari Komunikasi Sosial
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN KOMUNIKASI
Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”),secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.
Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia. Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan Steward(1998:16) mengenai komunikasi manusia yaitu: Human communication is the process through which individuals –in relationships, group, organizations and societies—respond to and create messages to adapt to the environment and one another. Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain.
Di kutip dari buku Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar yang di tulis oleh Deddy Mulyana, terdapat empat fungsi komunikasi, yakni: komunikasi sosial, komunikasi ekspresif, komunikasi ritual, dan komunikasi instrumental. Dan di makalah ini, penulis akan sedikit menjelaskan tentang komunikasi sosial.
B. KOMUNIKASI SOSIAL
Di kehidupan ini komunikasi merupakan sesuatu yang sangat vital. Komunikasi berperan penting bagi kehidupan manusia, karena manusia itu sendiri dikenal sebagai makhluk social. Setiap saat pasti manusia di dunia ini melakukan komunikasi, baik itu komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal. Namun , berkomunikasi dengan mengharapkan timbal balik yang positif dari lawan bicara kita itu sulit, contohnya pada saat perang dunia kedua. Menjelang akhir perang dunia kedua, terdapat bukti bahwa ada kekeliruan dalam menterjemahkan pesan yang dikirimkan pemerintah Jepang dan ini telah memicu pengeboman Hiroshima. Kata mokusatsu yang digunakan Jepang dalam merespon ultimatum Amerika Serikat untuk menyerah diterjemahkan oleh domei sebagai “mengabaikan”, tetapi pihak Amerika Serikat mengartikan kata tersebut dengan “no comment” sehingga pihak Amerika Serikat memutuskan menjatuhkan bom atom di Hiroshima. Padahal kata mokusatsu itu adalah “Kami akan menanti ultimatum Tuan tanpa komentar.”
Melihat dari kasus di atas, kesalahpahaman dalam berkomunikasi akan mengakibatkan sebuah masalah, maka komunikasi sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Berdasarkan pengamatan berbagai pakar komunikasi, mereka mengemukakan fungsi yang berbeda-beda, meskipun ada kalanya terdapat kesamaan dan tumpang tindih diantara berbagai pendapat tersebut. Seperti yang sudah penulis katakan di atas, di kutip dari buku Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar yang di tulis oleh Deddy Mulyana, terdapat empat fungsi komunikasi, yakni: komunikasi sosial, komunikasi ekspresif, komunikasi ritual, dan komunikasi instrumental. Berikut ini saya akan membahas komunikasi sosial.
Komunikasi sosial adalah Kegiatan komunikasi yang diaarahkan pada pencapaian suatu situasi integrasi sosial. Komunikasi sosial juga merupakan suatu proses pengaruh-mempengaruhi mencapai keterkaitan sosial yang dicita-citakan antar individu yang ada di masyarakat. Komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk menbangun konsep diri kita, aktualisasi diri, kelangsungan hidup, memperoleh kebahagian, terhindar dari tekanan dan ketegangan (lewat komunikasi yang bersifat menghibur) dan mempunyai hubungan dengan orang lain.
- Pembentukan konsep diri
Pembentukan konsep diri adalah pandangan kita mengenai siapa diri kita dan itu hanya bisa kita peroleh lewat informasi yang diberikan orang lain kepada kita. Aspek-aspek konsep diri diantaranya : jenis kelamin, agama, kesukuan, pendidikan, pengalaman, rupa fisik dan lain-lain. Identitas etnik merupakan konsep penting atau unsur-unsur penting konsep diri.
- Pernyataan eksistensi diri
Orang berkomunikasi untuk menunjukkan dirinya eksis. Inilah yang disebut aktualisasi diri atau pernyataan eksistensi diri. Ketika berbicara, kita sebenarnya menyatakan bahwa kita ada. Komunikasi sosial itu sendiri bertujuan untuk integrasi bangsa dan sosial. Integrasi adalah menciptakan rasa aman yang diperoleh dari ikatan sosial yang kuat dengan mengorbankan sedikit atau banyak kepentingan individu. Adapun beberapa masalah yang menjadi penghambat integrasi bangsa dan integrasi sosial, yaitu :
1. Integrasi bangsa melalui komunikasi antar generasi.
2. Pengaruh luar negeri melalui komunikasi internasional dan ilmu pengetahuan.
3. Akibat-akibat pembangunan sebagai unitended by products, contoh : pembangunan yang lebih banyak dikota dibandingkan dipedesaan.
Integrasi bangsa dan sosial dapat dicapai melalui :
1. Perbedaan identifikasi bangsa melalui bahasa.
Bahasa merupakan pencerminan dari realita hidup masyarakat, mekanisme bersosialisasi dan komuniakasi, situasi hubungan, diri dan derajat integrasi diri dan persediaan pengetahuan.
2. Identifikasi sosial melalui proses belajar atau sosialisai.
Sistem sosial adalah hasil dari interaksi yang bersifat interdependen dan komplementer.
3. Identifikasi sosial melalui legitimasi
Contohnya yaitu : Di Indonesia sila Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan nilai yang merupakan perlu atau utama bagi seluruh warga negara Indonesia.
Sejak lahir kita tidak dapat hidup sendiri untuk mempertahankan hidup. Kita perlu dan harus berkomunikasi dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan biologis kita seperti makan dan minum, dan memenuhi kebutuhan psikologis kita seperti sukses dan kebahagiaan. Melalui komunikasi pula kita dapat memenuhi kebutuhan emosional kita dan meningkatkan kesehatan mental kita. Komunikasi sosial mengisyaratkan bahwa komunikasi dilakukan untuk pemenuhan diri untuk merasa terhibur, nyaman dan tentram dengan diri sendiri dan juga orang lain.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dapatkah kita tidak berkomunikasi? Adalah sebuah kekeliruan besar ketika kita berpikir bahwa kita bisa hidup tanpa berkomunikasi. Kita tidak bisa tidak berkomunikasi. Kepada siapapun, apapun, kapanpun, bagaimanapun. Komunikasi menjadi semakin penting ketika kita dihadapkan pada sekeliling kita. Komunikasi, dalam konteks apapun, adalah bentuk dasar adaptasi lingkungan. Menurut Rene Spitz, komunikasi (ujaran) adalah jembatan antara bagian luar dan bagian dalam kepribadian. Itulah mengapa kita selalu membutuhkan orang lain, bukan saja karena kita tidak dapat lepas dari lingkungan, tetapi kehadiran orang lain akan memperteguh fitrah kekomunikasian kita.
Melalui komunikasi dengan orang lain, kita dapat memenuhi kebutuhan emosional dan intelektual kita, dengan memupuk hubungan yang hangat dengan orang-orang di sekitar kita. Komunikasi sosial menandakan bahwa komunikasi dilakukan untuk pemenuhan-diri, untuk merasa terhibur, nyaman dan tenteram dengan diri-sendiri dan juga orang lain.
Deddy Mulyana dalam bukunya Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar mengatakan bahwa fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi penting untuk membangun konsep-diri kita, aktualisasi-diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang menghibur dan memupuk hubungan dengan orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
• http://www.google.com
• http://bambangsukmawijaya.wordpress.com/category/komunikasi-sosial/
• Mulyana, Deddy. 2007, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Remaja Rasadakarya: Bandung.
Read More..
Posted by
Dhany Oktriyanto
PROFIL PEMUDA ISLAM YANG IDEAL
TUGAS ASISTENSI AGAMA ISLAM (AAI)
DHANY DIMAS OKTRIYANTO
D0210028
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2010/2011
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam sebuah hadis shahih, Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang sahabat, ''Kapankah sedekah yang paling utama itu?'' Beliau menjawab, ''Engkau bersedekah pada waktu muda sehat, berkeinginan untuk kaya, dan takut miskin.''
Ada semacam kecenderungan di kalangan sebagian masyarakat di sekitar kita untuk menangguhkan kegiatan perjuangan hanya menjelang masa tua dari berbagai macam aktivitas atau menjelang usia lanjut. Seolah-olah keberagamaan itu teraktualisasikan pada saat energi untuk menguasai kehidupan telah hampir terkuras habis. Keterlibatan dalam perjuangan menyiarkan Islam hanyalah diletakkan pada usia dan tenaga sisa saja.
Banyak contoh dalam realitas kehidupan, seseorang ketika memiliki
jabatan, harta, maupun kedudukan, sangat jauh dari nilai-nilai agama. Bahkan, cenderung menentang kegiatan-kegiatan keagamaan. Namun, ketika usia menjelang senja, orang tersebut mulai kelihatan aktif terlibat dalam kegiatan keislaman. Tentu saja hal ini tidaklah salah, apalagi jika dibandingkan dengan sama sekali tidak sadar.
Akan tetapi, jika memperhatikan hadis di atas, ibadah dan berjuang yang paling utama itu justru dilakukan pada saat usia muda yang energik dan penuh vitalitas, ketika keinginan untuk mendapatkan yang terbaik dan terbanyak begitu mendominasi. Sedekah, sebagai contoh, dikeluarkan pada saat memiliki angan-angan dan cita-cita menjadi orang kaya, serta takut miskin, sehingga segala sesuatunya diperhitungkan dengan teliti. Demikian pula dengan tobat, yang terbaik adalah dilakukan oleh anak muda yang relatif sedikit dosa dan kesalahannya, atau jika melakukan kesalahan dianggap wajar oleh masyarakat.
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Dailami dari Umar, Rasulullah SAW bersabda, ''Tobat itu sangat baik, akan tetapi jika dilakukan oleh anak muda jauh lebih baik....'' Karena itu, balasan dari Allah SWT bagi anak muda yang mengisi masa mudanya dengan kegiatan yang bermanfaat sangat luar biasa, yaitu kelak di Padang Makhsyar akan mendapatkan naungan-Nya pada saat tidak ada naungan selain naungan-Nya.
PEMBAHASAN
1. Pemuda Islam yang Ideal
Usia muda adalah usia yang memiliki fisik prima, akal segar, keingintahuan yang tinggi, dan semangat kuat, namun belum memiliki pengalaman yang cukup. Pemuda memiliki hasrat yang tinggi untuk melakukan suatu perubahan, hal ini membawa dampak pemuda berpotensi untuk membuat kebajikan, dan juga potensial untuk membuat keonaran. Jika dikembangkan kearah positif maka para pemuda dapat menjadi asset yang berharga bagi bangsa maupun umatnya.
Meski demikian, perlu juga diwaspadai, masa muda adalah masa dimana segala gejolak dan rasa mencapai puncaknya. Hasrat dan keinginan bergejolak dahsyat dalam jiwa. Godaan dan dorongan nafsu mendesak sangat kuat. Sehingga peluang untuk tergelincir pada lembah kemaksiatan terbuka lebar, sebagaimana peluang menuju kesuksesan pun terhampar di depan mata.
Pemuda. Sejatinya adalah orang muda sebagai generasi penerus dari
golongan yang tua, dan sebagai harapan bangsa. Pemuda adalah para remaja, pelajar, mahasiswa, dan lain sebagainya, yang tentunya memiliki jiwa yang muda. Namun, seperti apakah pemuda islam itu?
Menjadi sosok pemuda muslim ideal yang menjadi harapan bangsa dan Negara tidaklah mudah. Jiwa muda yang berkembang dalam diri para pemuda ini menyebabkan terkadang mereka terbawa arus perubahan zaman. Namun demikian agama islam memerintahkan agar kita mempersiapkan generasi muda penerus dengan sebaik-baiknya untuk menghadapi tantangan zaman, maka diperlukan pemuda muslim yang menjadi harapan umat dan bangsa.
Sifat-sifat dasar pemuda muslim ideal yang menjadi dambaan umat yaitu pertama, memiliki aqidah yang benar. Inti dari aqidah adalah tauhid yaitu mengesakan Allah SWT. Hanya menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan Allah dan menyerahkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah. Kedua, memiliki ilmu dan tsaqafah islam. Selalu haus akan ilmu pengetahuan dan mengamalkannya. Sehingga pemuda muslim mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang luas. Dapat dibayangkan betapa suatu bangsa akan cepat maju bila memiliki generasi-generasi muda yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi.
Nabi Muhammad saw. bersabda,”Manfaatkan yang lima sebelum datang
yang lima: masa mudamu sebelum datang masa tuamu; masa sehatmu
sebelum datang masa sakitmu; masa kayamu sebelum datang masa
miskinmu; masa hidupmu sebelum datang masa matimu; masa luangmu
sebelum datang masa sibukmu.” (H.R. Al Baihaqi)
Bila seorang pemuda Islam telah dapat mengimani Allah SWT. dan Rasul-Nya, tentunya ia akan selalu mengamalkan ajaran Islam, baik dalam
perbuatan dan kehidupan sehari-hari, hingga usaha pendakwahan agama Islam. Karena seorang pemuda Islam tentunya tidak ingin menjadi orang yang merugi, karena ciri orang yang tidak mengalami kerugian dalam hidup adalah senantiasa mengamalkan dan mendakwahkan Islam. Nabi Muhammad saw bersabda, “Barang siapa menyeru kepada kebaikan maka ia akan memperoleh pahala seperti dengan orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).
Al-Qur`an banyak bercerita tentang sosok pemuda yang mampu
mewujudkan perubahan dengan keunggulan pribadi yang kuat. Mereka memiliki prinsip dan sikap yang jelas dalam mewujudkan perubahan tersebut. Bukan keunggulan kepribadian saja yang kuat, tetapi keunggulan tersebut sangat dibutuhkan oleh zamannya.
Sosok Ibrahim, pemuda cerdas serta kritis terhadap ideologi dan
keyakinan yang dianut masyarakat sekitarnya, termasuk orang tuanya sendiri. “Dan ingatlah waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: ”Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-An`am:74). Nabi Ibrahim mampu mematikan logika sesat Aazar dan Namrud. Dengan gagah berani dan keyakinan yang tinggi dia mendebat Namrud (QS. Al-Anbiya (21): 52-71). Keunggulan logika Ibrahim tersebut sangat tepat dengan zamannya.
Lihatlah sosok sahabat-sahabat Rasulullah, sebagian besar dari mereka
adalah seorang pemuda. Pemuda Islam yang gagah berani serta benar-
benar menggunakan masa mudanya untuk kemuliaan Islam. Mereka muda
tapi dewasa, memiliki kepribadian yang matang serta tsabbat, punya sikap
dan pantang menyia-nyaiakan waktu mudanya dengan kelalaian.
2. Sifat yang Dimiliki Pemuda Islam
Masa muda merupakan masa-masa terindah yang Allah beri. Disana ada banyak peluang untuk berprestasi, berkreasi dan berinovasi. Masa muda penuh karya, penuh makna dan hikmah. Allah memberikan masa muda yang sama bagi setiap orang, yang membedakan adalah penyikapan terhadap masa yang Allah berikan tersebut, apakah akan dipergunakan dengan hal-hal yang bermanfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat atau menyianyiakannya dengan segala macam kesenangan sesaat. Jangan sampai muara dari masa muda adalah penyesalan di masa tua. Al-Qur`an yang menempatkan masa muda sebagai masa kekuatan. “Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Maha
Kuasa.” (QS. Ar-Ruum: 54) bijak jika masa muda dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Berikut ini beberapa hal yang dapat membuat masa muda lebih bermanfaat lagi:
1. Idealis, yaitu bercita – cita tinggi.
2. Kreatif, yaitu memiliki daya cipta yang tinggi.
3. Selalu ingin tahu, yaitu memiliki rasa penasaran atas sesuatu yang baru.
4. Berani, yaitu tidak malu dalam bertanya.
5. Pantang menyerah, yaitu tidak gampang putus asa.
6. Optimis, yaitu berpandangan baik.
7. Beribadah dan beramal sholeh, yaitu berusaha mendekatkan diri kepada sang pencipta yaitu Allah SWT.
8. Belajar dan mengkaji ilmu-ilmu Allah, yaitu rajin dalam mencari ilmu.
PENUTUP
1. Kesimpulan
Pemuda Islam adalah pemuda yang mampu mengangkat nama agamanya serta nama bangsanya. Berusaha untuk melawan kehidupan yang hanya penuh dengan kemaksiatan serta bertawakkal kepada Allah SWT. Generasi muda Islam dianjurkan untuk selalu menumbuhkan kesadaran diri akan betapa peran kita selalu dibutuhkan. Sekecil apapun yang bisa kita sumbangkan untuk Islam akan sangat bernilai dan akan dibalas dengan yang setimpal bahkan berlipat ganda.
Romawi Timur (Turki) telah ditaklukkan, dan Sungguh Rasulullah SAW pernah janjikan akan tiba saatnya bagi Romawi Barat (Vatikan/ Italia) untuk tunduk di bawah naungan Islam. Bersiap-siaplah kita semua untuk menjadi para pewaris Muhammad Al-Fatih, Sang Penakluk. Wallahu A’lam.
Daftar Pustaka:
- Figur Pemuda Islam/ Hasan Al-Banna, Abdullah Nashih ‘Ulwan, Ahmad Muhammad Jamal/ Penerbit Cahaya Perss, Jakarta/ 2002.
- Generasi Mendatang Generasi Yang Menang/ Dr. Yusuf Al-Qaradhawy/ Penerbit Gema Insani Perss, Jakarta/ 1995.
- Jangan Jadi Bebek/ O. Solihin/ Penerbit Gema Insani Perss, Jakarta/ 2002.
- http://www.syahadat.com/artikel/214-pemuda-islam/
- http://bankganteng.blogspot.com/2010/11/profil-dan-ciri-ciri-pemuda-muslim-yang/
- http://latisi.multiply.com/journal/item/1/FIGUR_PEMUDA_ISLAM_IDEAL/
Read More..
Posted by
Dhany Oktriyanto
MAKALAH ASISTENSI AGAMA ISLAM (AAI)
LONG LIFE EDUCATION
DHANY DIMAS OKTRIYANTO
D0210028
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2010/2011
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Akhir-akhir ini banyak para ahli yang mulai menyebarkan paham long life education atau dengan kata lain pendidikan sepanjang hayat. Salah satunya ialah R.S. Peters, dalam bukunya sendiri "The Philosophy of Education", ia menandaskan bahwa pada hakekatnya pendidikan tidak mengenal akhir, karena kualitas kehidupan manusia terus meningkat. Seruan tentang pendidikan adalah proses tanpa akhir juga dilakukan oleh negara. Sebagai sebuah upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sebuah perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Namun pada suatu masyarakat yang menganut aliran kapitalisame, kemajuan pendidikan hanya di lihat dari sejauh mana ia dapat menghasilkan tenaga-tenaga kerja yang akan dapat membuat mesin-mesin industri berjalan. Ideologi kapitalis dalam dunia pendidikan dapat dengan mudah dilihat dari pelajaran yang dipecah-pecah menjadi kepingan-kepingan ilmu yang semuanya berujung dan berpangkal pada hubungan jual-beli dan untung-rugi. Lalu dengan prinsip ekonomi yang berbunyi "modal sekecil-kecilnya untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya". Kemudian semua substansi pelajaran ekonominya adalah bagaimana membuat produk baik yang dapat dijual untuk mencari keuntungan, bagaimana menciptakan pasar, hingga bagaimana agar orang hanya bisa beli. Bukankah ajaran ini akan merusak substansi pendidikan sebagai upaya mewujudkan kemanusiaan universal?
Ini berbeda dengan Islam. Sebagai suatu agama, Islam mengajarkan tentang pola belajar yang memang seharusnya diusahakan oleh manusia dalam sepanjang hayatnya (long life education). Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah Al Qur’an dan Al Hadist.
Dalam pendangan Islam, pendidikan merupakan salah satu perhatian sentral masyarakat Islam baik dalam negara maupun minoritas. Dalam ajaran agama Islam, pendidikan mendapat posisi yang sangat penting dan tinggi. Karenanya, umat Islam mempunyai perhatian yang tinggi terhadap pelaksanaan pendidikan untuk kepentingan masa depan umat Islam.
Sebagai sumber ajaran, Al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti, ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran. Demikian pula dengan Al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long life education ).
Dari uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadist, sejak awal telah menancapkan revolusi di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Langkah yang ditempuh Al Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan makhluk hidup. Kini di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya.
PEMBAHASAN
1. Pendidikan
Masyarakat pada umumnya mengidentikkan pendidikan dengan suatu lembaga pendidikan formal (TK, SD, SMP, SMU, Perguruan Tinggi) dan lembaga pendidikan non formal (PAUD, Paket A-C, lembaga-lembaga kursus). Namun sesungguhnya, pendidikan itu tidak hanya didapat dari sebuah lembaga pendidikan yang sudah disebutkan di atas. Lebih luas lagi, seluruh fase kehidupan di dunia ini adalah proses pendidikan bagi manusia yang mau berfikir.
Sejak dalam rahim, seorang bayi telah belajar banyak hal. Salah satunya seperti merasakan, bergerak, melihat juga mendengar. Begitu pula ketika lahir ke dunia. Secara refleks bayi tersebut belajar bernafas, menangis, menyusu. Lalu seiring perkembangannya, bayi tersebut belajar berjalan, melompat, berbicara, dan sebagainya hingga menjadi manusia yang dewasa.
Berikut ini adalah beberapa definisi pendidikan menurut beberapa pihak:
- Menurut Ki Hajar Dewantara
Pendidikan yaitu daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak agar dapat memajukan kesempurnaan hidup.
- Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik.
- Menurut UU SISDIKNAS No.20 Tahun 2003
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Dari penjabaran di atas, dapat di simpulkan bahwa kegiatan mendidik dilakukan oleh satu pihak sebagai pendidik kepada pihak lain sebagai peserta didik. Tidak ada yang mencakup pendidikan dari satu orang kepada dirinya sendiri. Lalu mengapa pendidikan yang digembor-gemborkan di Indonesia hanya ditujukan ada pendidikan dalam lingkup yang sempit. Padahal seperti yang sudah saya jabarkan di atas, pendidikan itu begitu luas.
2. Long Life Education
Long life education atau pendidikan sepanjang hayat biasa diasumsikan sebagai pendidikan yang terus menerus hingga seseorang mendapatkan gelar yang banyak di belakang namanya. Namun dalam pengertian lebih luas lagi, long life education tidak menuntut adanya lembaga pendidikan. Sehingga mencari ilmu tidaklah harus dari suatu lembaga pendidikan saja. Keluarga dan lingkungan masyarakat sekitar adalah sarana pendidikan yang paling mendasar bagi kehidupan kita. Salah satu contohnya di dalam keluarga, para orang tua secara perlahan menanamkan dasar-dasar kepribadian kepada anaknya. Semua pengalaman interaksi anak dengan orang tuanya direkam secara langsung maupun tidak langsung dalam otak kecil anak tersebut yang kemudian akan membentuk kepribadian anak hingga dewasa kelak. Bila orang tua mengajarkan hal-hal yang positif kepada anaknya, maka anak tersebut akan memiliki kepribadian yang positif juga. Begitu juga sebaliknya, bila ajaran orang tua cenderung ke arah hal yang negatif, maka anak tersebut akan sulit menemukan jati dirinya dan memiliki citra diri yang negatif pula.
Lalu bagaimana dengan pandangan Islam mengenai long life education? Islam mewajibkan kita menuntut ilmu-ilmu dunia yang bermanfaat untuk menuntun kita dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kita di dunia, agar tiap-tiap muslim menjadi manusia yang berakhlak dan berakal serta tidak menjadi manusia yang picik, sehingga setiap muslim dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan dapat membawa kemajuan bagi kita semua dalam batas-batas yang diridhai Allah SWT. Rasulullah pun memerintahkan umatnya untuk menimba ilmu sampai akhir hayat. Demikian pula Islam mewajibkan kita menuntut ilmu akhirat yang menghasilkan natijah, yakni ilmu yang diamalkan sesuai dengan perintah-perintah syara’.
Sejarah pendidikan Islam pada hakikatnya tak lepas dari sejarah Islam itu sendiri. Sehingga, periode-periode pendidikan islam berada dalam periode-periode sejarah islam itu sendiri. Prof. Dr. Harun Nasution, secara garis membagi sejarah islam kedalam tiga periode yaitu :
1. Periode klasik.
2. Pertengahan.
3. Modern.
Kemudian Dra. Zuhairini dalam buku menjelaskan bahwa periode-periode tersebut di bagi menjadi lima masa, yaitu:
1. Masa hidupnya Nabi Muhammad SAW (571-632 M).
2. Masa Khalifaur Rasyidin di Madinah ( 632-661 M).
3. Masa kekuasaan Umawiyah di Damsyik (661-750 M).
4. Masa kekuasaan Abbasiyah di Baghdad ( 750-1250).
5. Masa dari jatuhnya kekuasaan Khalifah di Bagdad tahun 1250 M s/d sekarang.
Menurut Al-Qur’an, semua pengetahuan datangnya hanya dari Allah SWT. Konferensi Internasional tentang Pendidikan Islam yang diadakan di Universitas King Abdul Aziz tahun 1980 membuat rekomendasi sebagai berikut: “Semua pengetahuan datang dari Allah. Sebagian diwahyukan kepada orang yang dipilihnya, sebagian lain deperoleh manusia dengan menggunakan indera, akal, dan hatinya. Pengetahuan diwahyukan mempunyai kebenaran absolute sedangkan pengetahuan yang diperoleh, kebenarannya tidak mutlak.”
Dalam kenyataan sejarah, kedua macam pengetahuan yang di sebutkan Ibn Khaldun dengan istilah pengetahuan naqliyah (diwahyukan) dan pengetahuan aqliyah (dipikirkan) ini selalu dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan islam.
Menuntut ilmu diilihat dari segi ibadah, sangatlah tinggi nilai dan pahalanya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kakinya di waktu pagi (maupun petang), kemudian mempelajari satu ayat dari Kitab Allah (Al-Quran), maka pahalanya lebih baik daripada ibadah satu tahun”. Dan apabila kita melaksanakan amal ibadah tak dilandasi oleh ilmu, maka akan sia-sialah amalnya. Menurut Syaikh Ibnu Ruslan : “Siapa saja yang beramal (melaksanakan amal ibadah) tanpa ilmu, maka segala amalnya akan ditolak, yakni tidak diterima”.
Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia ini pun dengan sebuah tugas yaitu tugas mengajar, sebagaimana sabdanya: “Aku diutus ini, untuk menjadi pengajar”.(HR. Baihaqi). Mengingat pentingnya penyebaran ilmu pengetahuan kepada manusia / masyarakat agar mereka tidak terjebak dalam kebodohan dan kegelapan, maka diperlukan kesadaran bagi para muslim, guru dan ulama, untuk beringan tangan menuntun mereka menuju kebahagian dunia dan akhirat. Bagi mereka yang suka menyembunyikan ilmunya, mendapat ancaman, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: ”Barang siapa ditanya tentang sesuatu ilmu, kemudian menyembunyikan (tidak mau memberikan jawabannya), maka Allah akan mengekangkan (mulutnya), kelak dihari kiamat dengan kekangan (kendali) dari api neraka” (HR Ahmad).
Sistem pendidikan Islam yang pernah di terapkan Nabi Muhammad SAW dalam mengemban misi kerasulannya di muka bumi ini dapat dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 151 yang artinya : Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Berdasarkan ayat di atas, ada empat pendekatan yang digunakan Nabi Muhammad SAW dalam rangka mengembangkan dan menyiarkan Islam, yaitu :
1. Pendekatan tilawah
2. Takziyah
3. Ta’lim
4. Al-kitab
5. Ta’lim al hikmah
Di dalam Al-Quran dan Al-Hadist terdapat beberapa perintah yang mewajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu agar mereka menjadi umat yang cerdas, jauh dari kabut kebodohan. Perintah menuntut ilmu terdapat dalam hadist Nabi Muhammad SAW: “Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan” (HR. Ibn Abdulbari). Kemudian Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) diakhirat wajiblah ia mengetahui ilmunya pula dan barang siapa yang meginginkan kedua-duanya wajiblah ia memiliki ilmu kedua duanya pula” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sehingga dapat di simpulkan bahwa Islam mewajibkan para pemeluknya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, dan berwawasan luas agar dapat meningkatkan kualitas kehidupannya ke arah yang lebih baik.
PENUTUP
1. Kesimpulan
Sebagai seorang muslim, Islam sudah mewajibkan kita semua untuk memperdalam ilmu untuk masa depan kita sendiri. Masa depan yang cerah sudah menunggu kita apabila kita serius dalam menuntut ilmu (Insya Allah). Atau masa depan yang suram apabila kita bermalas-malasan dalam menuntut ilmu pengetahuan (Wallahu A’lam). Pilihan itu berada di tangan kita sendiri. Apakah kita ingin memperoleh masa depan yang cerah atau kah kita ingin terjerumus kedalam masa depan yang suram. Semua tergantung pada kita sendiri, kita yang menjadi nahkoda dalam mengarungi lautan yang penuh dengan badai menuju sebuah pulau bernama masa depan yang cerah.
Amin...
Daftar Pustaka:
- Tafsir, Ahmad. 2008. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. PT Remaja Rosdakarya: Bandung.
- Zuhairini, dkk. 1997. Sejarah Pendidikan Islam. Bumi Aksara: Jakarta.
- Salim Bahreisy, H. 1980. Sejarah Hidup Nabi-Nabi. Bina Ilmu: Surabaya.
- http://afika.blog.fisip.uns.ac.id/2010/12/17/long-live-education-in-islam/
- http://3gplus.wordpress.com/2008/04/21/sejarah-perkembangan-islam-di-dunia/
- http://www.warnadunia.com/
- http://zeffa09.blogspot.com/2010/06/pendidikan-sepanjang-hayat.html#more
Read More..